FAQ backpacker Lombok-Sumbawa-Moyo

Here they are the miscellaneous questions that often asked by friends or strangers on ask fm.

  1. Kenapa Solo Backpacker?  To be honest,rencana ke Lombok dan Sumbawa dengan beberapa teman gagal begitu saja,kesal sih. Lalu,daripada memendam kesal ya lebih baik jalan sendiri aja,toh di Lombok dan Sumbawa juga ada teman. Ada juga yang nyinyir “ih kasian banget deh sendirian”,kasian? wah,seharusnya kalian mencoba loh solo-backpacker,supaya kamu bisa tau artinya kesendirian dan agar dapat lebih menghargai orang lain,banyak-banyak lah membaca ya! Karena saya banyak teman makannya mudah sekali kemarin liburan mengelilingi Nusa Tenggara Barat. Sendiri bukan berarti lemah atau konotasi buruk lainnya,malah itu menunjukkan bahwa kamu cukup independent! Point bagus untuk seorang wanita!
  2. Kenapa Lombok? Okay,Lombok buat saya memang terdengar mainstream,maka dari itu saya menambahkan destinasi gak biasa: Pulau Moyo. Saya kurang suka dengan tempat wisata yang sudah banyak dikunjungi orang apalagi lingkaran terdekat hehe ndak tau ndak menarik aja jadinya. Biasanya malah kalau ada satu tempat populer yang no longer as popular place baru saya kesana 🙂 Sejujurnya,gak ada niat ke Gili Trawangan karena sudah banyak kawan dan kerabat kesana. Untungnya,Sumbawa dan Moyo memberikan saya pengalaman dan cerita baru.
  3. Berapa lama perencanaan hingga tiba keberangkatan? Sejujurnya kurang dari 2 bulan. Saya sangat bingung liburan mau kemana. Sudah penat dengan crowdednya Jakarta,sudah bosan keluar masuk mall yang isinya saya cuma ngabisin uang. Liburan saya saat itu selain diisi dengan  magang ya dengan jalan-jalan ini
  4. Alasan Backpacker kenap gak ikut Travel Agent saja lebih praktis? Wah enggak deh. Alasan pertama, I’m not coming from wealthy family,so i decide not to choose travel agent 🙂 Selain itu,saya orangnya gak suka diatur kesana-sini,saya gak suka kalo saya gak tahu segala sesuatu sendiri,saya lebih suka bercengkrama langsung dengan penduduk setempat agar lebih paham dan dapat pelajaran baru yang sifatnya empirik. Alasan kedua,saya bercita-cita jadi pembawa acara “Jejak Petualang” hahaha,so that’s why saya mulai berjalan-jalan sendiri,melihat segala sesuatu benar-benar dari ‘kacamata‘ sendiri,berusaha menjadi ‘liar‘ dan terbuka dengan alam dan lingkungan sekitar (doakan ya supaya terkabul). Alasan ketiga : Alhamdulillah di tempat-tempat yang saya tuju saya memiliki kawan,jadi ndak perlu repot-repot memikirkan penginapan. Alasan keempat : Saya orang yang suka belajar,belajar bukan cuma di kelas aja. Saya suka banget nyari-nyari sesuatu yang baru,saya interpretasikan lalu saya tulis. Saya benar-benar suka mengembangkan diri dengan such a things like those things. Saya suka benar-benar terlihat bodoh akan hal baru,yang membuat saya menyadari : Semakin saya tau banyak hal,semakin saya tahu ada begitu banyak hal yang sebenarnya tidak saya ketahui. Alasan Kelima : Saya cinta ilmu antropologi. Saya suka bertemu orang baru dan mendengar berbagai cerita serta pengalaman dari mereka. Sifatnya objektif dan seru,dan ketika kedua penemuan yang sifatnya berbeda bertemu,ilmu pengetahuan baru pun tercipta.Benar-benar sarana mencerdaskan diri.
  5. Alasan memutuskan untuk solo-backpacker? Ini memang keinginan saya sejak dulu,lampau banget deh sejak SMP. Lalu,saya juga terinspirasi dari film “How to be single”,film itu bercerita gimana pentingnya kita menyayangi diri sendiri dan perlunya waktu-waktu untuk sendiri walau sekedar untuk merenung. Karena,kalau kita sudah nikah (especially wanita) sudah ndak bisa kemana-mana seenaknya kehendak sendiri,harus patuh terhadap suami. HEHE (walapun stubborn saya penurut kok LOL ). Lalu,saya tuh gak suka ribet-ribet. Suka apa adanya aja lah,gak melulu harus liburan stay di cottage mahal atau jalan-jalan ala-ala,yang apa adanya itulah yang indah,ibu saya selalu menasihati begitu 🙂
  6. Bagaimana agar dapat izin dari orang tua? Orangtua saya awalnya cemas dan tidak mengizinkan,tapi karena orang tua saya kenal dengan Mbak Indri makannya ortu memberikan izin. Terlebih,ortu saya juga sudah mahfum bahwa saya ini gadis pemberani dan bisa diandalkan lah untuk urusan begini. Bahkan ayah saya sempat bilang : “Mbak kalau kamu dilepas di hutan,kamu pasti bisa survive, meanwhile orang-orang lain udah nyerah sebelum bala bantuan datang”. HAHAHA, analogi yang mengerikan, Pa.
  7. Bagaimana dapat tiket promo? Nah,kamu jangan seperti saya ya yang gak suka cek-cek iklan maskapai kalo lagi promo. Sebelum berangkat pastikan selalu cek-cek danbooking tiket promo jauh-jauh hari. Bisa aja loh dapat tiket cuma 300rb dari CGK-Lombok. Mbak In pernah hoki dapat tiket citilink 300rb rute CGK-Lombok.
  8. Kalau gak ada tempat teman,lalu bagaimana menginap yang murah dan nyaman? Cek saja aplikasi yang menyediakan penginapan yang murah meriah dan nyaman,seperti traveloka.com ; agoda.com; tapi saya refers buat visit airbnb.com,para backpacker pasti sudah tahu mengenai airbnb,dimana kita bisa dapat penginapan murah bahkan tinggal di rumah penduduk. Lebih berasa backpackernya!

#1 Solo-Backpacker Lombok-Sumbawa-Pulau Moyo-Gili Trawangan (Agustus 2016)

The world is a book and those who do not travel read only one page – St. Augustine

Hello this is my first time writing as solo-traveller.  Literally,saya gak benar-benar sendiri sih karena ketika sampai di Mataram saya langsung ‘diciduk’ teman saya dan diboyong ke rumahnya hehe. Mungkin ini ya enaknya punya teman dari mana-mana,because who the hell need an inn??? hahaha. Perjalanan saya ini di mulai dari Mataram,saya menikmati sekali setiap sudut kota Mataram,saya suka bangunan-bangunan tua yang ada disana juga bangunan khas Mataram. Kebetulan rumah teman saya berada di tengah kota Mataram yaitu di Jalan Udayana,jadi pas keluar gang rumahnya langsung jalan besar dan disitu ada satu bangunan pemerintahan yang keren banget! Sayangnya saya gak sempat foto itu bangunan. Kebetulannya lagi Islamic Center terletak persis di sebrang gang rumah teman saya. Jadi,saya bisa menikmati salah satu kunjungan wajib wisatawan setiap kali lewat. Oh ya saya numpang di rumah Mbak Indri. Mbak Indri tadinya satu kampus dengan saya tapi ia s2,dia dan saya sama-sama punya satu persamaan,yaitu : modal dengkul. Hahaha. Dia adalah wanita hebat yang sudah berkelana ke Eropa dan menikmati indahnya Berau serta Pulau Derawan dengan gratis 🙂 Dia adalah salah satu peneliti dari kampusku dan bersekolah di Bremen,Jerman. Berkelana ke Jerman dengan budget mepet mbak indri dengan sangat cerdas bisa mensiasatinya,ya actually i know the main reason of that sih haha karena mbak indri pintar sudah barang pasti lah dia bisa mensiasati,mencanangkan segala sesuatu dengan baik. Pokoknya aku kagum sekali dengan Mbak In ini,ditambah juga dia adalah salah satu penerima beasiswa ke Jerman hihi sudah cantik,pintar pulak! I was feeling how lucky i am! Karena keluarga mbak in ini sangat baik! Bapak,Ibu,Mas Babang (mas-mas dokter yang pinter kebangetan),Mbak Pia dan Adek Aming sangat baik dan menerima kedatanganku 🙂

Setelah itu,aku lanjutkan perjalanan ke Pula Moyo dengan terlebih dahulu menyebrang dari Pulau Lombok ke Pulau Sumbawa. Setelah sampai Pulau Sumbawa lalu ke pusat kota yaitu ke Sumbawa Besar dan dilanjutkan naik perahu ke Pulau Moyo. Setelah dari Pulau Moyo aku kembali lagi ke Mataram dengan rute yang sama dan esoknya langsung lanjut ke Gili Trawangan. Setelah ke Gili aku beranjak lagi ke Lombok. Alhamdulillah masih sempat jalan-jalan ke beberapa pantai di Lombok Tengah yang lebih bagus dari pantai-pantai di Gili atau Moyo (Subjektif ya). Nah,to curtail the list i will sums it up ya…

Untuk pertanyaan-pertanyaan tentang solo backpacker yang udah banyak banget nanya baik di chat maupun di ask fm saya akan buat FAQ (Frequently Asked Question) setelah ini. Saya akan buat post baru 🙂

Untuk estimasi biaya,juga saya akan jelaskan di bawah ya!

  1. Hari 1. Sampai Ke Mataram. Pertama kali pastinya saya menginjakkan kaki di bandara,setelah bertanya-tanya dengan mbak in saya akhirnya memutuskan naik bus damri yang lebih affordable dibanding harus naik taxi. Perbedaan harga bisa sampai berlipat-lipat. Setelah sampai Mataram,saya dijemput dan langsung istirahat di rumah mbak in.
  2. Hari 2 saya sudah sangat gak sabar banget untuk ke Pulau Moyo (ini tujuan utama saya). Fortunately,mbak in ikut bergabung! hahaha. Dia sudah merencanakan ini dari 2013 tapi hanya sebuah wacana karena ketakutan-ketakutan mbak in dan teman-teman akan harga yang mahal,karena review-review orang-orang di internet akan Pulau Moyo memang membuat ‘seram’ sih karena gak affordable. Mbak in sampai menjuluki saya “cewek nekat” karena persiapan gak sampai 2 bulan tapi ujug-ujug mau ke Moyo! hahaha. Pertama-tama dari Mataram saya naik travel ke Sumbawa. Dari Pelabuhan Lembar di Lombok timur ke Pelabuhan Pototano di Pulau Sumbawa. Total perjalanan waktu dari Mataram ke Sumbawa itu sekitar 10 jam,menyebrang dari Lembar ke Pototano sekitar 2-3 jaman. Saya sarankan ikut travel sore agar bisa menikmati Sunset di Lembar,lumayan bisa liat pemandangan Gunung Rinjani dan bukit-bukit yang indah. Saya belum benar-benar ke tujuan utama,tapi saya sudah dibuat takjub dengan pemandangan dari Lembar ke Pototano. Apalagi sepanjang perjalanan di kapal saya bercengkrama dengan nahkoda dan awak kapal,lucu dan sedih juga jadi awal kapal. Sekali lagi,saya dapat pelajaran berharga dari mereka,pengalaman-pengalaman mereka yang secara gratis diceritakan ke saya,tidak ada di buku manapun.
    imageedit_12_6018022119

    Pelabuhan PotoTano-Pulau Sumbawa

     

    Setelah 10 jam perjalanan sekitar pukul 00.30 WITA saya sampai di Sumbawa Besar. Alhamdulillah,saya juga punya teman asli Sumbawa Besar. Beruntung sekali bisa menginap di rumah mas Ihwani. Mas Ihwani adalah salah satu orang hebat juga,ia pernah diundang presentasi ke London dan sekarang menerima beasiswa bergengsi dari pemerintah Indonesia. Aku dan mbak in langsung aja tidur di rumah mas ihwani hehe. Oh ya,sekali lagi saya bersyukur karena diterima dengan sangat baik oleh keluarga mas iwan,wah ibu dan bapak sangat baik dan perhatian 🙂 Saya jadi ndak kapok main ke sana! hihi

  3. Hari ketiga kami masih bingung mau naik perahu sewaan (800rb-1 juta sampai pulau moyo dan ini yang banyak di review oleh orang kebanyakan),awalnya saya mau-mau saja karena saya fikir ya mau naik apa lagi dan juga ini backpack pertama saya,masih buta banyak hal. Tapi,mbak in memang sangat mengusahakan yang irit-irit haha berhubungan mbak in banyak temannya,ia menelfon mas Arial (orang BLH di Mataram),alhamdulillah kami dapat saran yang sangat make sense buat para backpacker hahaha. Akhirnya kami naik perahu nelayan yang hanya 50rb per orang! Perlu diingat perahu ini hanya ada 1 kali sehari ya,tujuan utama perahu nelayan ini sebenarnya hanya transportasi masyarakat Pulau Moyo untuk beli kebutuhan hidup di pasar yang terletak di Sumbawa,karena di Moyo ndak ada pasar. Perjalanan ke Pulau Moyo sangat seru! Saya pernah baca buku Andrea Hirata judulnya Maryamah Karpov dimana ia bercerita menyebrangin Selat Karimata yang rentan badai,ini gak beda jauh! Sekali-kali saya naik kapal laut adalah dari selat sunda ke Lampung,itupun naik kapal feri which is kapal besar dan airnya masih biru. Kalau ini,perahu kecil,gelombang besar,air masuk-masuk ke kapal,dan airnya sudah tak terlihat birunya tapi warnanya hitam,yang artinya : ini perairan dalam sekali. Sepanjang perjalanan saya mencoba santai dengan bercanda dan mengobrol dengan warga Pulau Moyo. Saya berfikir waktu itu “ah,ini yang gak bisa didapatkan ketika kita pakai travel agent” ^^.  Memerlukan waktu 2 jam untuk menyebrang dari Pulau Sumbawa ke Labuan Aji,sebuah pelabuhan kecil di Pulau Moyo.Gak sampai ba-bi-bu kami berdua memutuskan ke tujuan utama : Matajitu Waterfall. Siapa yang gak tau air terjun ini? Air terjun ini terkenal karena Lady Diana pernah mandi disana,that’s why dijuluki “Quen Waterfall”.  Listrik disini hanya nyala dari jam 18.00 WITA hingga 06.00 WITA,yup hanya 12 jam saja! Saran saya jangan lupa charge handphone dan kamera saat malam hari dan berjaga-jaga selalu bawa powerbank ya!
  4. Hari ke 4 dan ke 5 saya masih betah di Moyo. Ojek-ojek saya dan mbak in yang tadinya hanya sekedar urusan antar mengantar,berubah jadi dekat,menjadi kawan baru. Sekali lagi,gak bisa kamu dapatkan persaudaraan baru ini jika pakai travel agent. Kami ke pantai bareng-bareng,menikmati sunset.Esoknya main ke pantai lagi,bakar-bakar ikan,snorkling dan bercanda-canda. Ah,senangnya! Pulau Moyo serasa milik sendiri! Karena di pantai hanya ada saya,mbak in,Sadam dan Robin. Saat malam saya suka duduk di bibir pantai untuk cari sinyal haha dan berkumpul dengan pemuda-pemuda Moyo yang lucu dan baik hati. Saya sebenarnya cukup takjub mereka bisa berenang di malam hari tidak pakai alat bantu dan menangkap cumi untuk dibakar. Benar-benar baik! Cumi yang mereka tangkap kalau di Jakarta mungkin harganya sekitar 50rb,tapi mereka kasih gratis untuk saya dan mbak in,udah ditangkepin mereka juga bakarin lagi:) Saya jadi tau seluk beluk Moyo dari mereka,ini benar-benar empiris,sumbernya premier. Saya sungguh sangat merasa kasihan dan tersentuh ternyata Pulau ini benar-benar di monopoli oleh satu jaringan hotel yang luar biasa mahal (search sendiri ya),oh batin saya itulah mengapa banyak orang merasa harus mempersiapkan budget besar kesini,padahal kalau memang mau nekat harganya gak semahal yang dibayangkan! Saya tersentuh dengan cerita mereka dimana Pulau yang kira-kira besarnya sebesar Singapura ini tidak memiliki dokter! Hanya bu bidan yang terkadang terlihat berjaga-jaga. Pulau ini hanya memiliki 2 kampung yang kira-kira 1 kampung hanya ada sekitar 150 orang/50 KK. 80% dari pulau ini masih hutan-hutan. Gak heran sepanjang perjalanan baik ke air terjun maupun ke pantai,saya sering menemui ular,babi hutan,dan kijang 🙂 Sekolah pun hanya ada sampai SMP,jadi yang ingin melanjutkan SMA harus ngekost di Sumbawa. Saya miris dengarnya,kalau yang gak punya uang gimana? Kalau gak mampu bayar kost di Sumbawa gimana? Ini gak dilirik loh sama pemerintah. Sungguh miris! Kawan,ini lah yang kamu gak bisa dapatkan saat ikut travel agent,kamu gak bisa jadi peka. Tujuan liburan saya bukan hanya sekedar liburan,tapi sebisa mungkin saya ‘pakai’ diri saya ini jadi hal berguna buat mereka,meskipun itu hanya menyampaikan informasi kepada pemerintah Sumbawa. Kecintaan saya terhadap ilmu antropologi dan travelling membawa saya pada tahap ini. Saya berharap,Pulau Moyo lebih dirawat,gak usah bertele-tele,cukup sediakan dokter dan sekolah hingga SMA. Saya miris banyak orang meninggal sia-sia di tengah laut karena untuk menyentuh dokter harus menyebrang pulau. Oh ya selama di Moyo saya tidak tinggal di penginapan,saya menumpang di rumah Ibu Sadam (bayar tapi yaa ndak gratis),harganya bisa lebih murah dari penginapan biasa. Dapat makan 3 kali sehari. Saya bisa tinggal di rumah Ibu Sadam karena bantuan link (sekali lagi karena teman). FYI,Pulau Moyo ini sangat sepi. Jarang turis yang kesini. Waktu itu saya hanya bertemu satu tamu yang berasal dari Portugal. Juga,disini tidak terdapat toko oleh-oleh jadi jangan harap bisa bawa buah tangan dari Moyo,ya 🙂
  5. Hari ke 6 saya harus pamit dengan teman-teman dan adik di Moyo,langsung menyebrang ke Sumbawa dan malamnya langsung naik travel ke Lombok.
  6. Hari ke 7 kami berdua pun tepar! haha. Rencana saya yang awalnya hanya seminggu di Lombok pun gagal total! Biaya tak terduga pun menghampiri hahaha (harus siap-siap buat itinerary biaya tak terduga ya,kawan). Tapi,hari ini saya dan mbak in memutuskan untung berkeliling Mataram,mulai dari ke kota tua Ampenan hingga ke Pantai Ampenan.
  7. Hari ke 8 kami pergi ke Gili Trawangan dengan naik motor ke pelabuhan. Dari Mataram ke pelabuhan memerlukan waktu 1,5-2 jam. Jadi sedikit agak pegel-pegel. Kami sempat bersinggah ke Pantai Malimbu dan Pantai Senggigi untuk beristirahat.
    imageedit_6_6062223676

    Pantai Malimbu

    Kami naik kapal ke Gili Trawangan yang hanya memakan waktu tidak sampai 30 menit. Motor dititipkan ke penitipan motor di sekitar pelabuhan,jadi ndak bisa bawa motornya ke Gili ya,karena di Gili Trawangan bebas kendaraan bermotor. Sampai Gili saya langsung ke penginapan di “Creative Bungalow”,tempatnya cukup nyaman dan murah pastinya (dapat diskon karena itu juga punya teman,lagi2 karena teman! haha),yang tadinya 500 rb permalam jadi dapat diskon hanya 300 rb permalam.

    IMG_2730.JPG

    Sunset in Gili Trawangan

     

  8. Hari ke 9 tepatnya jam 15.00 kami kembali ke pelabuhan dan menyebrang ke Pulau Lombok. Fortunately ketika melewati Malimbu,kami disajikan dengan pemandangan yang sangat jarang dan menakjubkan! There was a rainbow! imageedit_8_8679534256.jpg
  9. Hari ke 9 dan 10 saya cukup tepar karena benar-benar gak istirahat full ketika sampai Lombok. Jadi,saya memutuskan beristirahat saja di rumah mbak in dan sesekali keluar rumah,sekedar cari makan di Sate Rembiga dan menikmati kota Mataram.
  10. Hari ke 11 saya diajak mbak in untuk main ke Lombok tengah (ini diluar rencana ya!),karena pesawat saya itu jam 19.00 maka masih ada waktu lah untuk pergi main-main ke Lombok Tengah. Saya diajak ke Desa Sade,Pantai Kuta Lombok dan Tanjung Ann.
    imageedit_21_6901701465

    Pantai Kuta,Lombok Tengah.

    Indah! Yaa memang benar,lebih indah pantai disini karena masih virgin dan belum banyak turis. Disini kami bertemu dengan teman mbak in yang juga orang kementrian kelautan,main-main dengan penyu dan diberikan buah tangan berupa kulit kerang yang sudah dilarutkan dengan asam nitrat,yang jika dijual satuannya bisa dijual 15 rb! hahahaha. Selepas itu saya masih sempat belanja oleh-oleh di toko langganan mbak in,dan juga mampir ke tempat pengrajin mutiara. Mutiara disini masih lebih murah dibanding sudah dikirim ke Jakarta,jika di Jakarta harganya 500rban per gelang/kalung mutiara,disini kita bisa dapat barang serupa hanya dengan merogoh kocek 150rb-200rb saja! Hari ini adalah hari terakhir saya di Lombok,perjalanan yang lumayan panjang,dan pastinya gak terlupakan. 🙂

ESTIMASI BIAYA SELAMA DI LOMBOK :

  • Pesawat (PP CGK-Lombok) : Tiket pergi-> 850rb. Tiket pulang promo-> 650rb = 1,5jt
  • Hari 1 : Damri :35rb. Makan;100rb. Total : 135rb.
  • Hari 2 : Travel: 150rb (sudah termasuk bayar kapal); Makan : 100rb. Jajan : 100rb Total : 350rb
  • Hari 3 : Naik perahu ke Moyo:50rb. Makan: 100rb. Total : 150rb
  • Hari 4 : Penginapan di Moyo 2 malam 3 hari : 600rb (sudah termasuk makan);Ojek 2 hari full ke Matajitu dan ke Pantai : 200rb;  Jajan2 : 100rb.; Sewa Alat Snorkling: 100rb Total : 1jt.
  • Hari 6 : Perahu : 50rb;Sewa tempat istirahat di Sumbawa (nunggu travel) : 150rb; Travel: 150rb; makan: 150rb. Jajan : 100rb. Total : 600rb
  • Hari 7 : Jajan dan Makan : 250rb. Total : 250rb
  • Hari 8 : Bensin : 25rb;penitipan motor:50rb/hari;perahu: 40rb;makan di Gili : 200rb;Jajan di Gili : 600rb;penginapan (bagi 2 dengan mbak in ) : 350rb;Sewa sepeda: 40rb/hari. Total : 1.305.ooo
  • Hari 9 : Makan :150rb;Perahu:40rb. Total : 190rb
  • Hari 10 : Makan dan jajan : 200rb.  Total : 200rb
  • Hari 11 : Bensin+Masuk Desa Sade : 50rb;makan: 100rb. Oleh2 1,5 jt [mahal karena beli mutiara untuk ibu sekitar 1 jt,tapi untuk oleh2 biasa selain mutiara harganya sangat terjangkau! beli oleh-oleh 500rb sudah bisa bawa oleh-oleh untuk orang banyak 🙂 ] ; Damri : 35rb. Total : 1.685.000
  • TOTAL KESELURUHAN : 7.365.000

 

  • PERLU DIINGAT : Saya rasa saya gak benar-benar backpack,karena :
  • 1) Saya hanya bayar penginapan saat di Moyo dan Gili saja (Hanya 3 hari bayar penginapan dari 11 hari masa liburan,karena saya mostly nginap di tempat teman) jadi,saran saya estimasikan lagi biaya penginapan,banyak penginapan murah kok cari saja di airbnb.com atau di agoda.com!
  • 2)Saya itu kebanyakan jajan,jadi lihat ini lihat itu langsung beli,padahal sebenarnya GAK PERLU. Malahan,jajan yang saya beli  kadang terbuang.
  • 3) Biaya diatas belum saya ‘belanja nakal’ ketika niatnya window shopping tapi tiba-tiba kebeli baju khas,baju pantai  yang lucuk (padahal udah bawa dari rumah) 😦 Please jangan diikuti ya!
  • 4) Ini adalah estimasi saya pribadi,banyak teman mengatakan kemahalan,banyak yang bilang standar atau bahkan murah, nah itu kan subjektif jadi sebaiknya coba disiasati dan dirapihkan lagi itinerarynya lagi sesuai kebutuhan dan lifestyle kalian masing-masing ya!
  • 5) Biaya total diatas exclude “biaya persiapan” saya selalu bersiaga jikalau ada apa-apa,jadi saya masukan ke “biaya tak terduga” sebanyak 2-3jt. Misalkan amit-amit kita ketinggalan pesawat atau hal tak terduga lainnya.
  • INGAT, kalian bisa backpack 1/2 kali lebih irit ya dari anggaran saya 🙂 It depends on you!
  • 6) Saya berangkat Agustus 2016 namun lupa tanggal berapa.

Selamat backpacker bagi yang berencana ke Moyo,Lombok atau Sumbawa! Semoga coretan saya ini bermanfaat ya. Jangan lupa untuk selalu ‘mau mendengarkan’ curhatan masyarakat asli ketika bepergian,terlebih bagi kita-kita yang merasa ‘berpendidikan’ WAJIB hukumnya untuk setidaknya menyebarkan ilmu pengetahuan alih-alih fungsi dari pencerdas bangsa! Jangan takut untuk berkeliling,hidupmu cuma sekali!

****Untuk FAQ setelah postingan ini ya!

***Untuk tanya-tanya hal lain bisa email saya ke ellyzabethnadya@gmail.com

Happy reading, Have a good day!

 

 

 

Fav Folk Song of Mine

Jadi,ceritanya kemarin banyak yang tanya why i do love folk song? Simple,because i feel coz,restful. Listening to this genre makes me increase the concentration of almost the things i do.

Nah,list saya dibawah ini gak semuanya murni folk ya. Ada beberapa yang sudah mix sama pop culture jadi mungkin agak-agak bisa diterima lah ya kalau awal-awal dengar lagu folk ini. Oh ya,listen to these song literally make me contagious.

So,this is a lil fav list of mine. Please enjoy!

Hypocryta

Aku masih tak mengerti akan beribu-ribu orang tenggelam dalam kemunafikan mereka di zona nyaman
Kebohongan besar-besaran yang tercipta tanpa memperdulikan apa sebenarnya cita-cita mereka
Mengapa mereka tak meraihnya?
Mengapa larut dalam pencapaian yang tak maksimal?

Apa salah diri ini mempertanyakan kemunafikan itu?
Mengapa tak keluar saja dari zona nyaman yang telah mereka dapatkan?
Temukan saja kebahagiaan sejati yang disebut “cita-cita”,capai itu meski harus berkeringat darah
Enyahkan saja semua kata orang-orang yang tak mahfum akan cita-cita kita

Pantanglah menyerah pada pencapaian sesaat
Dengan sesuatu yang dicapai tidak dengan susah payah
Kejarlah kebahagiaan sejati kita
Meskipun mungkin kita harus benar-benar pergi dari zona nyaman….

NERD
Purwokerto, Sept 28 2013

 

 

 

 

Sekilas karya ini,saya buat ketika saya merasa gak nyaman di jurusan saya yang lama. Saya merasa orang-orang di sekitar saya juga merasakan hal yang sama. Saya kecewa,karena begitu banyak orang yang merasa tidak cocok dengan pilihannya atau lebih parah pilihan orang tuanya hanya berdiam saja dan menjadi munafik akan sebenar-benar pilihan dalam hatinya. Terkungkung pada suatu hal yang mereka buat dan batasi sendiri. Mereka don’t have courage to break the boundary. Mereka merasa aman di zona nyaman,padahal hidup baru dimulai jika kita mencoba berjalan di luar zona nyaman. Karya yang mungkin gak ada isinya ini bentuk ‘curhatan’ saya kala itu,bentuk rasa muak akan semua hal yang terjadi bukan karena begitu adanya. Karena percayalah,kemunafikan adalah awal dari segala penyakit. Jika dari diri sendiri saja kita tidak bisa jujur dan bertindak (pada hal yang sebenar-benarnya mau kita) bagaimana kita dapat jujur dan bertindak atas nama orang lain? atas manfaat untuk orang lain?